Aristoteles Dan Ajarannya Tentang Etika

A.    Riwayat Hidup


Aristoteles lahir di stageira pada semenanjung kalkideke di trasia (balkan) pada tahun 384 sm dan meninggal di kalkis pada tahun 322 sm dalam usia 63 tahun. Ayahnya yang bernama Mashaon adalah seorang dokter istana pada raja makedonia amyntas II.[1] jadi sangat  di mungkinkan sekali dalam masa mudanya ia hidup di istana raja makedonia di kota pella dan dapat di andaikan pula bahwa ia mewarisi minatnya yang khusus untuk pengetahuan empiris dari bapaknya. Pada usia 17 atau 18 tahun aristoteles di kirim ke athena, supaya ia belajar di Akademia Plato.
Ia tinggal disana sampai plato meninggal pada tahun 348/7; jadi, kira-kira dua puluh tahun  lamanya. Pada waktu aristoteles berada di akademia, aristoteles menerbitkan beberapa karya. Ia juga mengajar anggota-anggota akademia yang lebih muda, rupanya tentang pelajaran logika dan retorika.


Dengan kecerdasannya yang luar biasa, ia menguasai berbagai ilmu yang berkembang pada masanya. Tatkala ia berumur 18 tahun, ia di kirim di athena ke akedemia plato. Di kota itu ia belajar pada plato.kecenderungan berfikir saintifik tampak dari pandangan pandangan filsafatnya yang sistematis dan banyak menggunakan metode empiris. Pandangan filsafat aristoteles berorientasi pada hal hal yang konkret.[2]

Tatkala ayahnya meninggal, ia pergi ke athena dan belajar pada plato di akademia. Dua puluh tahun lamanya aristoteles menjadi murid plato dan bergaul dengan dia, ia rajin membaca dan mengumpulkan buku-buku. Di rumahnya disususunnya suatu bibliotik. Sebagai bibliotik pertama yang ada di athena. Aristoteles sangat gandrung kepada plato, sehingga ia mendirikan perpustakaan filsafat sendiri untuk menghormati gurunya. Oleh karena itu, rumuh filosofis ini di beri nma “rumah pembaca”.[3]

Sesudah kematian plato, speusippos yang merupakan kemenakannya menggantikan plato sebagai kepala di akademia. Pada saat itu aristoteles meninggalkan athena bersama murid plato yang bernama xenokrates. Hal ini dimungkinkan karena mereka tidak setuju dengan anggapan speusippos tentang filsafat, yang mempunyai kecendurang untuk menyetarakan filsafat dengan matematika. Mereka berangkat ke assos yang terletak di pesisir asia kecil, dimana penguasa negara pada waktu itu adalah hermeies. Hermeies sendiri adalah bekas murid akademia dan atas permintaan hermenies plato mengirimkan dua orang muridnya, yaitu Erastos Dan Koriskos, dengan tujuan supaya mereka membuka suatu sekolah disana. Aristoteles mulai mengajar  di sekolah assos itu. Disini aristoteles menikah dengan pythyas, kemenakan dan anak angkat hermeias, kemudian pada tahun 345 hermeas ditangkap dan dibunuh oleh tentara parsi. Kita masih mempunyai suatu syair yang disusun aristoteles tidak lama sesudah itu , yaitu syair yang di buat aristoteles untuk menghormati hermeas.  Peristiwa pembunuhan itu memaksa aristoteles untuk melarikan diri dari assos. Ia pergi ke Mytilene yang terletak dipulau lesbos tidak jauh dari assos, agaknya atas undangan theopratos saampai murid dan sahabat aristoteles-yang berasal dari pulau itu.di assos dan mytilene aristoteles mengadakan riset dalam bidang dan zoologi, yang data-datanya(sekurang-kurangnya sebagian )  di kumpulkan dalam satu buku yang berjudul historia animalium.
Sekitar tahun  342 aristoteles di undang oleh raja phillipos dari makedonia yang merupakan anak dari amyntas II, hal ini bertujuan untuk menanggung pendidikan anaknya amyntas II yang bernama alexander, yang pada saat itu usianya sekitar 13 tahun. Undangan itu dapat kita mengerti, kalau kita ingat bahwa aristoteles sudah di kenal di makedonia , karena ayahnya bertugas sebagai dokter di istina raja pella. Banyak legenda diceritkan dalam tradisi kuno mengenai hubungan antara guru  dengan muridnya –dua tokoh yang menjadi tersohor dalam sejaraah dunia- tetapi tidak mempunyai data-data yang dapat dipercayaai. Boleh di andaikan bahwa aristoteles terutama menerangkan homeros dan penyair-penyair yunani lain kepada muridyaa. Pada tahun 340 alexander di angkat menjadi pejabat raja makedonia dan empat tahun kemudian di menggantikan bapanya sebagai raja makedonia pada usia 19 tahun. Rupanya tugas aristoteles di istana pella sudah selesai pada tahun 340. Barangkali sesudah itu ia menetap beberapa lamanya di kota asalnya stageira. Di kemudian hari aristoteles menulis suatu karangan bagia alexander yang di sebut perihal monarki  dan suatu karangan lain tentang pendirian perantauan.
setelah alexander agung di lantik menjadi raja, aristoteles kembali ke athena, di mana Xenokrates sudah menggantikan speusippos sebagai kepala di akedemia. Kita tidak mempunyai alasan untuk menyangsikan bahwa xenokrates tetap merupakan sahabat aristoteles, namun demikian, aristoteles tidak kembali ke akademia; agaknya karena pemikirannya sudah berkembang jauh dari filsafat akademia. Dengan bantuan dari makedonia ia mendirikan suatu sekolah sendiri yang di namakan lykeion (di latinkan: lyceum), pemberian nama ini sangat berhubungan dengan letak lykeion yakni karena tempatnya dekat dengan halaman yang di persembahkan kepada dewa apollo lykeios. Dengan semangat besar sekali para anggota lykeion mempelajari semua ilmu yang di kenal pada waktu itu. Kemudian Aristoteles membentuk sebuah perpustakaan yang mengumpulkan macam-macam manuskrip dan peta bumi; menurut kesaksian strabo, seorangsejarawan yunani-romawi, perpustakaan itu merupakan perpustakaan pertama dalam sejarah manusia . mungkin aristoteles membuka juga semacam museum yang mengumpulkan semua benda yang menarik perhatian, terutama dalam bidang biologi dan zoologi. Di ceritakan, alexander memberi suatu sumbangan besar untuk membentuk koleksi itu dan memerintahkan semua pemburu, penangkap unggas, dan nelayan dalam kerajaannya, supaya mereka melaporkan pada aristoteles mengenai hasil yang menarik dari sudut ilmiah.
Istrinya, pythias, meninggal di athena pada tahun yang tidak di ketahui. Perkawinan yang pertama ini di karuniai dengan seorang anak perempuan. Aristoteles menikah lagi dengan herpyllis yang melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama nikomakhos. Suatu kejadian yang sangat menggelisahkan bagi lykeion adalah kematian alexander agung pada tahun 323. Itu mengakibatkan suatu gerakan anti makedonia dengan maksud melepaskan athena  dari makedonia. Aristoteles di tuduh karena kedurhakaan (asebeia), ia meletakkan kepemimpinan lykeion ke dalaam tangan muridnya, theoprastoss, dan melarikan diri ke khalkis, tempat asal ibunya. Menurut tradisi kuno, menurut tradisi kuno, aristoteles melarikan diri dengan mengatakan ia “tidak akan membiarkan athena berdosa terhadap filsafat untuk kedua kalinya” (dengan alusi kepada nasib sokrates). Tetapi padaa tahun berikutnya ia jatuh sakit dan meninggal di tempat pembuangan itu pada usia 62 atau 63 tahun. Kita masih memiliki tek wasiat aristoteles yang di simpan oleh diogenes laertios. [4]

B.     Karya-karya Aristoteles
Pada dasarnya keadaan karya-karya aristoteles berlawanan dengan keadaan karya karya plato. Seperti sudah di jelaskan, kita masih mempunyai semua karangan yang di peruntukkan plato bagi publik lebih luas, sedangkan kita tidak mempunyai satu karya apapun yang mencerminkan pengajarannya dalam akademia. Dari aristoteles kita tidak memiliki lagi karya-karya yang di terbitkannya supaya di baca oleh khalayak umum, tetapi kita masih memiliki banyak karya yang di karang aristoteles berhubungan dengan pengajarannyaa di lykeion atau di tempat lain.
Sebenarnya ia banyak menghasilkan karya-karya hasil penelitian dan pemikiran pemikiran filsafat. Tapi sayang banyak karyanya yang hilang.diantara karyanya yang di kenal adalah anganan (logika), priar analytics (silogisme), pasteriar analytics (sains), dan yang lain sebagainya. Dari karya karyanya dapat di ketahui pandangan pandangan dia tentang beberapa persoalan filsafat, misalnya etika, negaraa, logika, metafisika, dan lain sebagainya. [5]
WD Ross, seorang ahli filsafat yunani berkebangsaan inggris membagi karya-karya aristoteles menjadi tiga golongan berikut ini.
1)   Karya-karya yang sifatnya lebih kurang populer yang di terbitkan oleh aristoteles sendiri.
a.    Eudemos atau perihal jiwa
Dialog ini mengambil dialog plato yang bernama phaidon sebagaai contohnya. Agaknya dialog ini di karang tidak lama setelah tahun 354. Seperti judulnya sudah menyatakan, dialog ini membicarakan persoalan persoalan mengenai jiwa. Aristoteles di sini tanpa ragu-ragu menerima beberapa pokok ajaran plato seperti pra-eksistensi jiwa, perpindahan jiwa, dan anggapan bahwa pengetahuan daapat di samakan dengan pengingatan.
b.    Protreptikos
Dapat di sangsikan bahwa karya ini merupakan suatu dialog; mungkin bentuk sastranya merupakan uraian yang biasa. Tujuan karya ini adalah mengajak themison, kepala negara di pulau kypros (siprus), untuk berfilsafat. Protreptikos mempertentangkan pengetahuan teoritis yang di utamakan dalam akademia dengan pengetaahuan pragmatis yang di praktekkan dalam sekolah isokrates, saingan akademia. Disini kita mendengar juga uraian aristoteles yang tertua mengenai etika. Biarpun dalam karya ini terdapat cukup banyak gagasan yang mengingatkan kita akan plato, namun kita jumpai juga beberapa pikiran aristotelian yang khas.
c.    Perihal filsafat
Dialog ini terdiri dari tiga buku. Buku satu menyajikan suatu uraian mengenai perkembangan umaat manusia. Rupanya di sini masih terdapat beberapa unsur yang di pengaruhi oleh plato. Buku II memberikan suatu kritik tajam atas ajaran plato mengenai ide ide. Buku III memuat pendapatnyaa tentang Allah dan susunan kosmos. Sejaauh ada kesaksian tentangnya, kita dapat disini bahwa aristoteles di sini sangat di pengaruhi oleh plato, khususnya buku X dari nomoi; tetapi bertentangan dengan pendaapat plato(dalam dialog timaios), aristoteles berpendirian bahwa kosmos tidak mempunyai permulaan menurut waktu. Karena prihal filsafat memberikan kritik atas ajaraan plato mengenai ide-ide, kebanyakan ahli menyangka bahwa karya tersebut di tulis aristoteles sesudah kematian pato, pada waktu itu ia berada di assos.

2)   Karya-karya yang mengumpulakn bahan bahan yang dapat di gunakan dalam risalah risalah ilmiah.
Menurut kesaksian masa kuno, aristoteles mengarang banyak karya yang memuat dokumentasi ilmiah. Kiranya dapat di andaikan bahwa sebagian karya-karya itu di susun oleh aristoteles sendiri dan sebagian oleh murid muridnya di bawah pimpinannya. Agaknya kebanyakan karya ini berasal dari periode aristoteles mengajar dalam lykeion. Hampir semua karya itu sekarang sudah tidak ada lagi. Yang masih di simpan adalah karya yang biasanya di tunjukkan degan nama latin historia animalium (=penyelidikan mengenai binatang-binatang); karya ini di sisipkan oleh andronikos dari rodos dalam edisi buku-buku aristoteles. Suatu karya lain yang bernama athenaion politeia (=tata negara athena). Di temukan pada tahun 1890 dalam padaang pasir di mesir. Karya tersebut merupakan satu bagian saja dari suatu karya raksasayang mengumpulakn undang undang dasar dari 158 negara yunani.

3)   Karya karya yang di karang aristoteles sehubungan dengan pengajaarannya
Karya-karya ini pasti tidak di karang untuk di terbitkan. Barang kali buku-buku ini terdiri dari catatan-catataan yang di buat aristoteles untuk kuliah-kuliahnya. Sebagian kecil buku-buku ini berasal dari  cataatan murid-murid yang di buat waktu kuliah-kuliah aristoteles mungkin juga karya-karya ini memuat ringkasan ringkasan yang di susun aristoteles guna murid-muridnya yang tidak sempat menghadiri kuliah kuliahnya. Asal usul ini dapat mengartikan sifatnya juga. Bahasa yang di gunakan bersifat padat, lugas, dan sarat dengat peristilahan teknis. Sering kali terjadi aristoteles mengulangi apa yang sudah di katakan terlebih dahulu dan terjadi juga satu ucapan tertentu bertentangan dengan ucapan di tempat lain. Semua tek karangan aristoteles yang masih di simpan sampai hari ini termasuk golongan ketiga ini (selain beberapa kekecualian yang sudah di sebut di atas).
Kita boleh mengandaikan, sesudah kematian aristoteles , murid-muridnya (antara lain eudemos dari rodos dan anak aristoteles yang bernama  nikomakos) menyusun buku-buku itu dengan menggunakan bahan yang sudah ada. Terdapat suatu tradisi yunani yang memisahkan nasib yang di alami buku- buku ini. Konon theophrastos mewasiatkan manuskrip-manuskrip aristoteles kepada anggota lykeion lain yang bernama neleus dari skepsis. Pengikut-pengikut neleus menyembunyikan manuskrip-manuskrip itu dalam suatu gudang di bawah tanah. Di situ apellikon, seorang perwira dalam tentara raja pontos yang bernama mithridates, menemukan manuskrip-manuskrip itu dalam keadaan kurang baik. Ia membawa semua naskah itu ke athena kira-kira pada tahun 100 sm. Pada tahun 84 sebelum masehi. Konsul romawi yang bernama sulla membawa manuskrip-manuskrip aristoteles ke roma dan menyuruh sarjana-sarjana menerbitkan karya karya itu. Penerbitan itu di laksankan oleh andronikos dari rhodos sekitar 40 sm. [6]
 Sedangkan menurut jenis ilmu yang di sajikan, karya karya aristoteles dapat di bagi menjadi empat bagian yaitu: logika, fisika, metafisika, dan etika. [7]
a)    Buku-buku logika
1.      Catagoriae (berisi 10 macam predikat/keterangan)
2.      Interpretatione (tafsiran tafsiran) berisi keterangan keterangan tentang bahsa yaitu tentang proposisi dan bagian bagiannya
3.      Analytica priora (uraian pertama) yang membicarakan tentang qiyas
4.      Analytica posteriora (uraian kedua) yang membicarakan pembuktian ilmiah
5.      Topica, yang berisi qiyas dialektika dan mengenai hal-hal yang belumpasti
6.      Sophistis, yang berisi kesalahaan kesalahan yang telah di perbuat oleh orang orang sofis, penolakan terhadap mereka dan pemecahannya
b)   Buku-buku fisika
1.      De caelo (langit)
2.      Animalium (hewan)
3.      Anima(jiwa)
c)    Buku-buku etika
1.      Ethica nicomachea terdiri dari sepuluh buku
2.      Magna moralia (karangan karangan besar tentang moral) terdiri dari dua buku
3.      Ethica eudemia terdiri dari tujuh buku merupakan pengembangan dari buku Ethica nicomachea
d)   Buku-buku metafisika
Buku buku metafisika terdiri dari 14 buku; nama “metafisika” metafisika tidak di pakai oleh aristoteles akan tetapi ia menamainya dengan “filsafat pertama” dan juga theologia.[8]
            Berbeda dengan pembagian karya-karya aristoteles menurut jenis ilmunya, secara umum, karya-karya aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan.[9] Yaitu:
1.    Logika, terdiri dari:
o   Categoric (kategori-kategori)
o   De interpretatione (perihal penafsiran)
o   Analytics priora (analitika logika yang lebih dahulu)
o   Analytics posteiora (analitika logika yang lebih dahulu)
o   Topica
o   De sophistics elenchis (tertang berargumen kaum sofis)
2.    Filsafat alam, terdiri dari:
o   Phisica
o   De caelo (perihal langit)
o   De generatione et corruptione (timbul hilangnya makhluk makhluk jasmani)
o   Meteorologica (ajaran tentang badan badan jagat raya)
3.    Psikologi, terdiri dari:
o   De anima (perihal jiwa)
o   Parva naturalia (karangan karangan kecil tentang pokok pokok alamiah)


4.    Biologi, terdiri dari:
o   De partibus animalium (perihal bagian bagian binatang)
o   De mutu animalium (perihal gerak binatang)
o   De incessu animalium (tentang binatang yang berjalan)
o   De generatione animalium (perihal kejadian binatang-binatang)
5.    Metafisika, oleh aristoteles di namai sebagai filsafat pertama atau theologia
6.    Etika terdiri dari:
o  Ethica nicomachea
o  Magna moralia (karangan besar tentang moral)
o  Ethica eudemia
7.    Politik dan ekonomi terdiri dari:
o   Politics
o   Economics
8.    Retorika dan poetika, terdiri dari:
o   Rhetorica
o   poetica

Sedangkan pengelompokan karya karya aristoteles menurut zamannya,  Werner Jaeger(1888-1961) dalam bukunya aristoteles. Grundlegung einer geschichte seiner entwiccklung membagi karya karya aristoteles menurut zamannya di bagi menjadi tiga zaman, sebagai berikut:

1.    Dalam zaman pertama, di waktu aristoteles berada dalam akaademia, ia menganut filsafat plato, termasuk juga ajarannya mengenai ide-ide. Disini ia menulis dialog-dialognya (kecuali perihal filsafat), tetapi juga beberapa bagian dari buku bukunya yang besar (physica I,II, dan VII, de caelo I, politicia II,2-3, De Anima III). Rhetorica dan buku buku tentang logika tidak di sediakan oleh jegger, tetapi ia mengakui kemungkinan bahwa juga karya karya ini sebagian di tulis dalam akademia.
2.    Zaman kedua mencakup waktu aristoteles berada di assos, mytilene dan dalam istana di pella. Dalam periode ini aristoteles berbalik dari gurunya aristoteles, antara lain dengan mengkritik ajaran mengenai ide ide dan membentuk filsafat sendiri. Disini aristoteles terutama giat dalam bidang filsafat spekulatif. Dalam zaman ini harus di tempatkan dialog perihal filsafat, karena kritiknya atas ajaran mengenai ide-ide. Juga bagian bagian besar dari buku-buku aristoteles berasal dari zaman ini : bagian tertua dari methafisika (“urmetaphysik”menurut perkataan aristoteles), seluruh ethica, eudemia, politicia VII-VIII dan beberapa bagian kecil lain, physica III-VI, De caelo II-IV dan de generatione et corruptione.
3.    Dalam zaman ketiga aristoteles mengajar dalam lykeion di athena sekarng minatnya berbalik dari filsafat spekulatif dan terutama di pustkan kepada penyelidikan empiris. Itu tidak berarti bahwa ia meninggalkan filsafat, tetapi dalam filsafatnya ia terutama mengindahkan yang konkret dan individual. Dalam zaman ini harus di golongkan: historia animalium dan semua karya biologis, meteorologika, de anima I-II (bukan buku III, yang sangat dekat dengan pendirian plato), semua parva naturalia, metaphysica XII, 8 dan mungkin beberapa tambahan dalam physica VII. Karya yang mengumpulkan 185 macam undang-undang dasar dan karya karya lain yang mengumpulkan data-data empiris, semuanya di susun dalam zaman ke tiga ini.




C.    Pengaruh Ajaran Aristoteles Serta Yang Mempengaruhi Ajarannya
Secara garis besar pemikiran aristoteles Dipengaruhi oleh filsuf filsuf besar seperti halnya, Parmenides,Socrates,Plato,Heraclitus dan Democritus. Sedangkan hasil pemikirannya di mempengaruhi filsuf filsuf setelahnya seperti halnya Alexander Agung, Avicenna, Averroes, Maimonides, Albertus, Magnus, Thomas Aquinas, Duns Scotus, Ptolemy, Copernicus dan Galileo. Akan tetapi dalam uraian kali ini tidak akan terlalu mandalam terhadap filsuf filsuf besar tadi, hanya saja disni kami hanya akan menguraikan secara garis besar saja. Dan Untuk filsuf filsuf yang mempengaruhi pemikiran aristoteles mungkin sudah cukup jelas sehingga kami hanya akan menjelaskan pengaruh pemikiran aristoteles saja.
Pemikiran aristoteles adalah kiblat bagi pemikir pemikir sebelumnya. Mungkin ini merupakan anggapan yang kiranya tidak terlalu berlebihan jika kita sandangkan kepada aristoteles sendiri. Apalagi Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi, hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.
Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir
abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya.
Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini--tentu saja—mencerminkan pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula
banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya,
misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).

Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.[10]

D.    Ajaran Tentang Etika

Aristoteles mengembangkan ajaran filsafat tentag etika.atik aristoteles pada dasarnya serupa dengan etik sokrates dan plato.tujuannya mencapai eudaemonia, kebahagiaan sebagai “barang yang tertinggi ”dalam kehidupan.akan tetapi,ia memahaminya secr realistik dan sederhana, ia tidak bertanya tentang budi dan berlakunya seperti yang dikemukakan oleh sokrates. Ia tidak pula menuju pengetahuan tentang idea yang kekal dan tidak berubah-ubah, tentang idea kebaikan, seperti yang ditegaskan oleh plato. Ia menuju kepada kebaikan yang tercapai oleh manusia sesuai dengan gendernya, derajatnya, kedudukannya, atau pekerjaannya. Tujuan hidup, katanya ,tidaklah mencapai kebaikan untuk kebaikan, melainkan merasai kebahagian. Untuk seorang dokter, kesehatannlah yang baik, baik bagi seorang pejuang kemenanganlah yang baik, dan bagi seorang pengusaha, kemakmuranlah yang baik. Yang menjadi ukuran gunanya yang praktis tujuan kita bkan mengetahui, melainkan berbuat.bukan untuk mengetahui apa budi itu, melainkan supaya kita menjadi orang yang berbudi. [11]

Dalam penjelasan sebelumnya kita  sudah mengetahui bahwa aristoteles telah menguraikan pendiriannya tentang etika dalam tiga karya yaitu Ethica nicomachea, Ethica eudemia dan magna moralia. Karya terakhir ini umumnya tidak di anggap otentik. Otentisitas Ethica eudemia pada awalnya sering kali di persoalkan,  tetapi sekarang sudah tercapai konsensus antara para ahli mengenai otentisitasnya. Tetapi  Ethica nicomachea agaknya di tulis aristoteles pada usia lebih tua daripada Ethica eudemia, sehingga dapat di simpulkan bahwa dalam Ethica nicomachea kita dapat menemukan pemikiran aristoteles yang lebih matang dalam bidang etika. Dalam buku ini ada empat hal penting yang dapat di ambil dari ajaran aristoteles tentang etika yaitu:

a)    Kebahagiaan sebagai tujuan
Dalam segala perbuatannya manusia mengejar suatu tujuan. Ia mencari sesuatu yang baik baginya tetapi ada bannyak macam aktivitas manusia yang terarah pada macam-macam tujuan tersebut. Dan menurut aristoteles tujuan yang tertinggi ialah kebahagiaan (eudaimonia). Disini dapat di catat pula bahwa terjemahan “kebahagian” sebetulnya sedikit pincang untuk menyalin eudaimonia ke dalam bahasa indonesia. Dengan kata eudaimonia orang yunani tidak memaksudkan suatu perasaan subjektif, tetapi suatu keadaan manusia yang bersifat demikian sehingga segala yang harus ada padanya terdaapat pada manusiaa (“well-being”). Dengan pemapaaran tadi maka sudah jelas bahwa yang di maksudkan dengan etika adalah cabang filsafat yang sifatnya praktis bukan teoritis.
Dalam mencapai tujuan ini aristoteles memberikan pendapatnya tentang tiga hal yang perlu dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan hidup: [12]
1.    Manusia harus memiliki harta secukupnya, supaya hidupnya terpelihara. Kemiskinan mengakibatkan perilaku rendah bagi manusia, memaksa ia menjadi loba.milik membebaskan ia daari kesengsaraan dan keinginan yang meluap, sehingga ia menjadi orang yang berbudi.
2.    Alat yang terbaik untuk mencapai kebahagiaan ialah persahabatan .menurut aristoteles, persahabatn lebih penting daripada keadilan. Sebab, kalau orang-orang bersahabat,dengan sendirinya keadilan timbul antara mereka.seorang sahabat sama dengan satu jiwa dalam dua orang. Cuma persahabatan lebih mudah tercapai antara orang yang srdikit jumlahnya dari antara orang banyak.semua kita adalah sahabat maka tidak akan ada kemiskinan, karena sahabatnya yang kaya telah meghilangkan kemiskinannya.
3.    Keadilan. Keadilan disini mempunyai dua pengertian. Pertama, keadilan dalam  arti pembagian barang-barang yang seimbang, relative sama menurut keadaan masing-masing. Kedua, keadilan dalam arti memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Misalnya, perjanjian mengganti kerugian. ini keadilan menurut hukum.    

b)   Kebahagiaan menurut isinya

Jika kita berasumsi bahwa kebahagian merupakan tujuan yang tertinggi dalam hidup manusia. Maka perkataan ini perlu di klarifikasi kembali, karena hal ini terkait dengan berbagai pendapat manusia tentang kebahagiaan itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa kekayaan itu kebahagiaan, ada yang mengatakan kesehatan itu kebahagiaan, bahkan suatu kebahagiaan adalah ketika kita di hormati oleh sesama.

       Manusia hanya di sebut bahagia jika ia menjalankan aktivitanya dengan baik. Atau, seperti di rumuskan oleh aristoteles sendiri, supaya manusia bahagia ia haarus menjalankan aktivitasnya “menurut keutamaan”. Hanya pemikiran yang di sertai dengan keutamaan (arete) dapat membuat manusia menjadi bahagia. Keutamaan menurut rasio, tetapi juga manusia seluruhnya. Manusia bukan hanya makhluk intelektual, melainkan juga makhluk yang mempunyai perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, nafsu-nafsu, dan lain sebagainya. Dari sebab itu, sebagaimana yang akan di terangkan sebentar lagi, menurut aristoteles terdapat dua macam keutamaa: keutamaaan intelektual dan keutamaan moral. [13]

       Akan tetapi dalam hubungannya antara keutamaan dan kebahagian aristoteles beranggapan bahwa manusia belum di katakan bahagia jika manusia menjalankan pikirannya dengan keutamaan  dalam waktu yang relatif singkat atau sesekali saja. Menurut ia manusia bisa di katakan bahagia seutuhnya jika manusia itu dapat menjalankan pemikirannya dengan disertai keutamaan  dalam jangka waktuyang yang cukup panjang. Dengan lain perkataa, kebahagian itu adalah ketika manusia sudah sampai pada keadaan yang bersifat stabil (tetap).

       Selain dalam uraian di atas, masih ada beberapa unsur lagi yang bisa membuat manusia meskipun unsur-unsur ini bukan termasuk pada hakikat kebahagiaan itu sendiri. Agar manusia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang utuh maka perlu juga bahwa dia (manusia) harus merasakan senang dalam menjalankan kebahagian seperti yang sudah di jelaskan di atas. Jadi, mesti ada kesenangan atau rasa bahagia yang subjektif. Dan perlu di garis bawahi kebahagiaan tidak dapat di samakan dengan kesenangan, aristoteles menolak hedonisme, akan tetapi ia mengakui bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna jika tidak di sertai kesenangan (hedonis). Selain dari kesenagan yang sifatnya batiniah, maka dalam penyempuraan kebahagian di perlukan juga kesengan yang sifanya lahiriah, seperti misalnya kesehatan, kesejahteraan ekonomi, sahabat-sahabat, keluarga, penghormatan dan lain sebagainya. Pada dasarnya manusia yang kurang dari beberapa hal yang sudah di sebutkan tadi maka akan sukar untuk mendapatgkan kebahagiaan. Kan tetapi perlu di tekankan kembali bahwa kesengan dan unsur-usur lahiriah tidak termasuk hakikat kebahagian itu sendiri melainkan hanya merupakan  syarat bagaimana kebahagiaan itu dapat di capai dan di realisasikan.

c)    Ajaran tentang keutamaan

Ketika kita berbicara tentang ajaran keutamaan aristoteles tentu ajaran ini sangat berbeda dengan apa yang sudah pernah di tawarkan oleh filsuf filsuf sebelumnya yakni socrates dan plato. Dimana socrates dan plato menganggap bahwa keutamaan itu sama halnya dengan pengetahuan, sehingga dengan mengetahui apa yang baik baginya maka tentu ia akan berbuat seperti yang demikian, dan dari inilah maka di ambil kesimpulan bahwa keutamaan itu dapat di ajarkan, begitu menurut socrates dan plato. Dalam anggapan kedua filsuf ini, aristoteles sangat menentangnya, menurut dia belum cukuplah, jika manusia mengetahui apa yang baik baginya, karena hal ini tidak akan sekaligus membuat ia melakukan pengetahuannya tentang keutamaan tersebut. Dengan demikian aristoteles juga menentang akan anggapan bahwa keutamaan itu dapat di ajarkan. Tetapi dalam anggapan aristoteles ini malah ada pertanyaan yang cukup menarik, yakni jika keutamaan itu tidak dapat di ajarkan maka dengan cara manakah ia dapat memperoleh keutamaan? Jawaban aristotelespun sangat terkesan paradok, sebab ia mengatakan bahwa kita memperoleh keutamaan dengan berbuat baik. Paradoks timbul karena kita terjepit dalam sebuah “lingkaran setan”. Dalam penjelasan ini mungkin skita angat sulit untuk memahami apa yang di maksud aristoteles, sehingga dalam penjelsan ini kita ambil contoh yng di tawarkan oleh kees bertens dalam ,contoh seperti ini: seorang anak misalnya, di larang oleh orang tuanya jangan mencuri barang kepunyaan orang lain . jika ia berbuat dengan larangan tersebut maka belumdapat di katakan bahwa ia berbuat dengan keutamaan. Tetapi mungkin  sekali dengan demikian suatu sikap tetap akan terbentuk dalam hati si anak, sehingga ia tidak mencurilagi justru karena ia yakin bahwa perbuatan itu bukan perbuatan yang baik. Dan itulah yang di maksud aristoteles. Hidup menurut keutamaan (objektif) dapat menyebabkan keutamaan pribadi, sehingga untuk selanjutnya perbuatan perbuatan  akan di lakukan menurut keutamaan.

Biarpun aristoteles menolak pendirian yang menyamakan keutamaan dengan pengetahuan, namun ia mengakui juga bahwa rasio mempunyai peranan terpenting  dalam membentuk keutamaan-keutamaan. Setiap keutamaan berasal dari rasio. Tetapi ada dua jenis keutamaan yang dapat menyempurnakan rasio itu sendiri dan keutamaan dapat mengatur watak mausia. Keutamaan tadi kemudian di bagi menjadi dua yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral.


1.    Keutamaan moral
Disini aristoteles melukiskan keutamaan moral sebagai suatu sikap yang memungkinkan manusia untuk memilih jalan tengah antara dua ekstrem yng berlawanan.
2.    Keutamaan intelektual
Hal ini di jelaskan oleh aristoteles bahwa rasio manusia mempunyai dua fungsi, di satu sisi rasio manusia memungkinkan manusia untuk mengenal kebenaran dalam arti ini rasio dapat di katakan sebagai rasio teoritis. Di lain pihak rasio manusia berfungsi sebagai pemberi petunjuk atau keputusan supaya orang mengetahui apa yang harus ia lakukan dalam keadaan tertentu, dan di sisi ini rasio bisa di katakan sebagai rasio praktis. Sehingga dari sini aristoteles membagi keutamaan yang menyempurnakan rasio: ada kebijaksanaan teoritis dan ada kebijaksanaan praktis.
d)   Kehidupan ideal

Dalam buku terakhir dari ethica nicomachea aristoteles kembali lagi pada unsur terpenting dalam kebahagian manusia, yaitu memandang kebenaran. Hal ini rupaya tidak jauh berbeda dengan anggapan gurunya plato, hanya saja dalam mencapai kebenaran ini plato meyakini akan unsur ide-ide  sedangkan aristoteles menolaknya. Tapi tetap menurutnya, tujuan terpenting dalam hidup manusia adalah kebenaran.


E.     Kontektualisasi Ajaran Aristoteles Tentang Etika Terhadap Kehidupan Sekarang

Kondisi masyarakat kontemporer saat ini sudah mulai di gelisahkan oleh berbagai problem kemanusiaan dan ekologi sebagai dampak daru berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kita lihat misalnya dari semarakya seminar-seminar yang membahas tentang pemanasan global, kerusakan sumber air, limbah nuklir dan sebagainya atau mungkin yang lebih mutakhir munculnya dampak dampak dari limbah kebudayaan yang telah mencemari hampir di seluruh kawasan dunia melalui cyberspace . adalah realitas yang tak terbantahkan dari upaya manusia untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Pemikiran aristoteles, dalam konteks ini masih mempunyai relevansi pada dimensi-dimensi tertentu hal ini tentunya untuk memberikan solusi terhadap persoalan persoalan yang telah di uraikan tadi. Dalam persoalan persoalan ini, coba kita konteks kan ajaran etika aristoteles tentang keutamaan(arete) dengan keadaan dunia kita saat ini, jika ajaran ini di aplikasikan maka akan memberikan dampak yang sangat baik bagi kehidupan manusia. Sebab, konsep yang di ajarkan oleh aristoteles tersebut berusaha untuk memberikan bingkai dalam berperilaku (kebijakan praktis, phronesis) dan berpikir (kebijaksanaan intelektual, sophia) bagi manusia, dalam konteks sosial (human as zoon politicon) maupun individual (human as zoon logon echon).

Pada aspek lain, pemikiran etik aristoteles yang mengedepankan konsep aktus akan potensi, dapat di lihat sebagai upaya strategis untuk ethos pengembangan diri manusia. Kebahagiaan manusia tidak di ukur oleh bagaimana kita mengejar nikmat (hedonis) tapi tergantung pada seberapa jauh kita telah mengaplikasikan da mengaktualisasikan diri secara bijaksana. Dalam sebuah terminologi yang di berikan erich fromm: kita bahagia bukan karena apa yang kita miliki melainkan karena keberadaan kita dan sejauh aktualisasi potensi kita.
Berkenaan dengan pokok-pokok pemikiran aristoteles tersebut, berikut dapat di berikan beberapa catatan kecil sebagai berikut:

1.    Etika aristoteles yang mengedepankan aspek “kebahagiaan” sebagai finalitas tujuan hidup manusia pada satu sisi mempunyai kemiripan dengan konsep yang terdapat dalam agama islam. Bedanya, bahwa konsep kebahagiaan aristoteles berdimensi “kedisinian” sedangkan konsep kebahagiaan dalam islam mencakup juga dimensi “kedisanaan” atau eskatologis.
2.    Konsep jalan tengah (mesotes) yang di tawarkan sebagai hal keutamaan moral pada satu sisi terdapat kebenarannya wlaupun hal itu merupakan sesuatu yang menyederhanakan dimensi keutamaan moral. Hal tersebut tidak lain karena keutamaan moral mempunyai cakupan yang luas, tidak hanya mengedepankan aspek mesotes.
3.    Sebagai tokoh aliran teleologis, bagi aristoteles, tindakan adalah betul sejauh mengarah kepada kebahagiaan, dan salah sejauh mencegah kebahagiaan. Etika aristoteles ini dapat di golongkan kedalam egososialistik karena yang di utamakan adalah aspek kebahagiaan pelaku dan pada saat bersamaan ia ber-praxis, artinya berpartisipasi dalam menjalankan kehidupan warga polis.
4.    Berpijak dari pemikiran aristoteles bahwa upaya pengembangan diri manusia dapat di tempuh melalui proses self actualization atau aktualisasi diri manusia. Aktualisasi diri pada manusia , menurut aristoteles mencakup dua aspek yaitu aspek intelektual dan aspek sossial. Aspek intelektual dapat di tempuh dengan jalan ber-theoria yaitu mengembangkan secara maksimal kemampuan manusia sebagai makhluk yangt berfikir, sedag aspek sosial dapat di tempuh dengan  jalan praxis yaitu mengembangkan potensi manusia sebagai mahluk sosial.
5.    Habitus (pembiasaan) adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan keutamaan bagi manusia, secara intelektual maupun moral. Hal ini berarti bahwa dalam upaya pengembangan diri manusia pembiasaan untuk melakukan  hal-hal yang utama dalam dimensi intelektual dan tindakan adalah hal yang niscaya. Hal ini berarti bahwa untuk membentuk manusia yang berkualitas membutuhkan waktu yang tak sebentar.

Pembentukan etika aristoteles sebagaimana yang telah di uraikan di atas, meskipun di gagas pada masa klasik ternyata ketika di kontektualisasikan pada zaman sekarang masih mempunyai banyak relevansi dan patut di pertimbangkan bagi upaya pengembangan diri manusia di zaman sekarang. Hal ini dapat kita cermati dari gagasan nya bahwa pengembangan diri manusia baik sebagai makhluk yang berakal maupun makhluk sosial.   



[1] Atang Abdul hakim, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi. 215
[2] Ahmad Syadali, filsafat umum hal. 73
[3] mohammad hatta, alam pikiran yunani hal.15
[4] kees bertens, sejarah filsafat yunani hal.156 
[5] Ali maksum, pengantar filsafat hal. 82
[6] kees bertens, sejarah filsafat yunani hal.159
[7]Atang Abdul hakim, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi hal.217
[8] kees bertens, sejarah fisafat yunani hal.162
[9] Asmoro achmadi, filsafat umum... hal. 30
[10] http://www.darunnajah.ac.id/?act=news&kategori=Artikel&id=19
[11] Moh.Hatta, alam pikiran yunani hal.133
[12]Atang Abdul hakim, Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi hal.235
[13] kees bartens, sejarah filsafat yunani hal.194



DAFTAR PUSTAKA
Kees bartens, 1999. Sejarah filsafat yunani, Kanisius, Yokyakarta.

Atang abdul hakim, beni ahmad saebani, 2008. Filsafat Umum Dari Mitologi Sampai Teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung.

Mohammad Hatta, 1986. Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta.

Ahmad Syadali dan Mudzakkir, 2004. Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung.

Ali Maksum, 2009. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme, Ar-Ruzz Media, Jokjakarta.

Achmadi, asmoro. 2001. Filsafat umum. Jakarta, grafindo persada.





Dari internet

http://hiburan.kompasiana.com/buku/2010/03/12/belajar-hidup-bermutu-dari-aristoteles/

http://www.darunnajah.ac.id/?act=news&kategori=Artikel&id=19

Blog, Updated at: 7:03 PM

3 komentar:

Popular

Recent Comment

Follow by Email

Powered by Blogger.